MANJADA WAJADA

Pada tanggal 6 maret di pagi harinya saya dan teman saya mengetik OASIS,karena sudah di suruh oleh guru pembimbing kami menyelesaikan 1 minggu,setelah seminggu itu kami selesai saya akan di ajarkan membuat web.
setelah saya mengetik oasis selama 1 jam-an saya pun menyudahi mengetik karena badan ku terasa pegal semua.
dan pada saat jam 10-an kami di ajak oleh guru pembimbing kami untuk menyasikan film “NEGERI 5 MENARA” dengan iuran masing-masing Rp 10.000 .tapi nonton nya jam setengan 3.
setelah jam setengah 3 saya dan kawan” pkl dan guru pembimbing saya berangkat ke bioskop terdekat,yaitu matahari.
setelah kami sampai di sana saya pun membeli tiket nonton tersebut bersama teman-teman saya,setelah membeli tiket kami pun masuk ke bioskop,
saya jujur,baru sekali ini saya masuk bioskop bersama teman-teman,sebelum nya saya tidak pernak ke bioskop sama sekali,di dalam bioskop saya terkejut ternyata di dlama bioskop seperti itu.
Di saat film itu di mulai tak ada suara yang terdengar,semua orang terdiam.
di saat saya melihat film tersebut saya melihat bahwa hidup itu harus bersungguh-sungguh karena dengan bersungguh-sunggu capaian kita selam hidup pasti akan berhasil.
Dan saat saya melihat film tersebut mendengarkan Sepenggal kata mutiara dari seorang Guru kepada anak muridnya ketika sedang mencontohkan cara membelah sebuah dahan pohon dengan sebilah parang. Walau memakan waktu yang lama tetapi dapat juga terpotong menjadi dua bagian, dan bukan karena ketajaman parang tersebut yang membuatnya terbelah, melainkan usaha nyata yang sungguh-sungguh hingga akhirnya membuahkan hasil.
bukan itu saja yang saya lihat dari film tersebut saya melihat cita” mereka ingin menjadi orang yang sukses,seperti di ceritakan di film negeri 5 menara yaitu.
“Aku ingin jadi milyuner besar itu. Kalau saya mah jadi ketua partai tapi ngajar di kolong jembatan…” Sebuah cita-cita di masa muda yang terkesan tinggi, namun berkat usaha dan tekad keras, hingga akhirnya seiring waktu mereka mendapatkan apa yang diimpikannya.
dan Alif Fikri dari Maninjau, Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso Salahuddin dari Gowa. Meski berbeda tempat asal dan jalan hidupnya, namun karena sama-sama bertekad untuk meraih satu tujuan mereka bahu-membahu untuk saling melengkapi dan berbagi satu sama lainnya.
dan suasana yang paling membuat mata kita meneteskan air mata pada Salah satu dramatic point yang tak terlupakan ketika sampai pada adegan Baso akan pergi meninggalkan pesantren dan menuturkan latar belakang hidupnya. Begitu pula saat adegan Baso melakukan aktivitas pengajian dan merawat neneknya di kampung halaman, nah di situlah suasana yang tadinnya senang menjadi suasana yang menyedihkan.
Pada malam harinya saya,rizal dan guru pembimbing saya ngelbur untuk nyelesaikan tugas kami yang belum selesai saat ini,kami pun sudah menyiapkan badan saya untuk ngelembur untuk mengetik aosis sebanyak 1 bulan, tetapi saya pun senang karena ada hiburan nya yaitu melihat liga champions di RCTI,setelah kami selesai mengerjakan tugas tersebut kami pun bertiga melihat bola liga champions arsenal vs ac milan,dan ternyata arsenal menang,tetapi untung saja ac milan sebelum tanding pada kemaren malam ac milan menang dengan 4-1.setelah itu selesai kami pun tidur untuk meninstirahatkan badan kita semua.

About nasrularpansa

saya gx suka orang yg munafik n smbunyi" di blkang saya

Posted on 6 Maret 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: